Satu dalam Suka

Satu dalam Suka

Yesus hadir dalam sebuah peristiwa sukacita. Ia menjadi “satu”, terlibat dengan sukacita orang lain di sekitarnya (Yoh 2:1-11): Ia datang dalam sebuah pesta pernikahan di Kana yang di Galilea. Ia juga membuat mukjijat yang pertama kalinya dalam pesta pernikahan ini.

Rumah singgah buat para mantan napi, yang bersemangatkan nothing to loose ini terbentuk ketika pada awalnya di tahun 2007, saya mengunjungi pelbagai penjara, dan kadang ditemani oleh seorang awam bernama Wagiman. Pak Wagiman ini kerap mudah tersenyum dan tidak putus memberi harapan bagi para narapidana, entah di penjara remaja, dewasa, anak-anak, juga penjara wanita. Oleh sebab itulah, bagi saya sendiri, Wagiman bisa berarti: “Wajah Giat Beriman.” Selama dua tahun terakhir ini, para anggota rumah singgah SOCIUS, yang kebanyakan adalah muslim, berusaha giat beriman. Mereka mencukupi kebutuhan hariannya dengan membuat pelbagai benda rohani: dari patung Hati Kudus Yesus, Maria, santo santa, para malaikat juga pelbagai salib dan rosario dari bahan-bahan sederhana. Menyitir Van Gogh, hidup tak berharga bila tak berani mencoba sesuatu, maka mereka juga mencoba menjual hasil karyanya, demi membeli nasi, indomie, alat-alat mandi, dan keperluan harian lainnya. Dari sinilah, mereka belajar bersama teman-temannya untuk mencoba belajar satu dalam suka.